banner 728x250

Strategi Pelokalan SDGs Desa Ala Mendes Gus Halim Iskandar

  • Share
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) RI, Abdul Halim Iskandar.
Keterangan foto: Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) RI, Abdul Halim Iskandar. (Istimewa)
banner 468x60

JAKARTA, infodesaku.com – Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Halim Iskandar mengungkapkan, strategi pelokalan SDGs (Sustainable Development Goals) global sampai ke SDGs Desa, dilakukan dengan memasukkan SDGs Desa ke dalam kebijakan resmi pemerintah.

Dalam artian, “peng-Indonesia-an” tidak sekadar penerjemahan bahasa, tetapi benar-benar diletakkan pada budaya desa-desa di Indonesia. 

Dikutip dari Portal Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Jumat (23/07/2021), strategi ini, terulas rinci dalam buku berjudul “SDGs Desa: Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Nasional Berkelanjutan” yang ditulis langsung oleh A Halim Iskandar.

Ia menyebut, bahwa indikator juga disesuaikan dengan kondisi desa, contohnya indikator jalan tol berubah menjadi jalan desa (halaman 81-82). Dan, secara khusus penulis menambahkan SDGs ke-18 yang khusus berkenaan dengan konteks desa.

“Berturut-turut disebutkan SDGs Desa, 1 ialah Desa Tanpa Kemiskin­an (halaman 86-89). Diksi ini dipilih daripada mengakhiri kemiskin­an, dengan ikon tabungan jago. Ada kekhasan warga desa untuk mengakhiri kemiskinan dengan memulai tabungan meskipun dita­bung di dalam rumah,” katanya.

Kemudian, SDGs Desa 2, kata pria yang akrab disapa Gus Halim ini, ialah Desa tanpa kelaparan. Penulis memilihnya daripada istilah mengakhiri kelaparan. Ikon bakul nasi menandai terbebasnya warga dari kelaparan karena sudah bisa makan nasi yang menjadi persentase pengeluaran terbesar keluarga-keluarga di desa saat ini.

“SDGs Desa 3, adalah Desa Sehat dan Sejahtera, yang dipilih ketimbang kesejahteraan yang baik dan kesejahteraan. Ikon detak jantung bermakna kehidupan disusun lebih manusiawi dengan menambahkan tangan manusia,” jelasnya.

Selanjutnya, SDGs Desa 4, ialah Pendidikan Desa Berkualitas, sebagai pilihan daripada pendidikan bermutu. Ikon warga desa membaca, yang ditandai warga bercaping, merujuk pada pendidikan seumur hidup melalui keberlanjutan membaca informasi terbaru.

Kemudian, SDGs Desa 5, yakni Keterlibatan Perempuan Desa, dipilih daripada ke­setaraan gender karena menunjukkan persoalan yang lebih dominan di desa ialah peningkatan keterlibatan perempuan.

SDGs Desa 6, ialah Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi, yang dipilih daripada akses air bersih dan sanitasi. Ikon kendi berisi air lebih dikenal khalayak desa, yang menandai akses terhadap air minum yang layak.

SDGs Desa 7, bernama Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan. Diksi itu dipilih daripada energi bersih dan terjangkau. Ikonnya merujuk pada energi bersih dan terbarukan yang bisa dipraktikkan di desa berupa pembangkit listrik dari kincir angin.

SDGs Desa 8, berupa Pertumbuhan Ekonomi Desa Merata, yang dipilih penulis ketimbang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Ikon pertumbuhan ekonomi diletakkan pada warga desa bercaping agar terasa lebih dekat pada lingkungan desa.

SDGs Desa 9, tentang Infrastruktur dan Inovasi Desa sesuai Kebutuhan, sebagai pilihan daripada infrastruktur, industri, dan inovasi. Ikon jalan yang sangat panjang merefleksikan kebutuhan khas desa Nusantara, di mana selama ini dana desa juga diarahkan sesuai kebutuhan pembangunan 121.000 kilometer jalan tersebut.

Kemudian, SDGs Desa 10, ialah Desa Tanpa Kesenjangan. Diksi ini lebih tegas daripada frasa mengurangi ketimpangan. Ikon timbangan yang sejajar antar penduduk desa bercaping mengindikasikan kesejahteraan yang merata sehingga warganya berdiri sejajar satu sama lain.

SDGs Desa 11, berupa Kawasan Permukiman Desa Aman dan Nyaman. Jelas ini lebih tepat daripada diksi kota dan komunitas yang berkelanjutan. Ikon rumah khas di desa dengan lingkaran tidak terputus menandai permukiman desa yang terus lestari atau berkelanjutan.

SDGs Desa 12, adalah Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Ling­kungan, menggantikan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Ikon berupa warga desa membuang sampah ke tong sampah yang terseleksi karena lebih jelas menunjukkan pengum­pulan sampah terpilah agar digunakan lembaga bank sampah untuk diolah kembali menjadi barang produktif.

SDGs Desa nomor 13, ialah Desa Tanggap Perubahan Iklim, sebagai pilihan dari penanganan perubahan iklim.  Karena, iklim merujuk pada kondisi regional sampai global sehingga peran utama desa bukan terutama menanganinya, melainkan tanggap melakukan mitigasi perubahan iklim. Ikon kebebasan anak-anak bermain air hujan menunjukkan iklim yang terjaga sehingga menyehatkan bagi manusia, bahkan bagi anak-anak sekalipun.

SDGs Desa 14, adalah Desa Peduli Lingkungan Laut, yang dipilih menggantikan menjaga ekosistem laut. Ikon nelayan desa mene­bar jalan di pesisir yang dangkal mengilustrasikan ekosistem lautan yang terjaga sehingga mudah untuk menjala ikan.

SDGs Desa nomor 15, ialah Desa Peduli Lingkungan Darat, dipilih daripada menjaga ekosistem darat. Ikon sawah yang subur hingga membuahkan padi bernas menandai lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya.

SDGs Desa nomor 16, yaitu Desa Damai Berkeadilan, menggantikan frasa perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat. Ikon kentungan menandai desa yang aman, damai, dan berkeadilan.

SDGs Desa nomor 1, ialah Kemitraan untuk Pembangunan Desa, menggantikan kemitraan untuk mencapai tujuan. Ikon hubung­an antara warga dan pihak-pihak lain menekankan kemitraan yang berguna.

SDGs Desa 18, secara khusus penulis menambahkan SDGs Desa nomor 18: Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif. Tambahan untuk menunjukkan kekhasan pembangunan desa Indonesia.

“Kunci keberhasilan implementasi SDGs Desa ialah kelembagan desa yang dinamis. Lembaga sendiri dipahami sebagai temuan manusia agar bisa mengorganisasikan kerja,” terangnya.

Dalam hal ini, penulis memandang beberapa lembaga desa sangat penting, yaitu pemerintahan desa, musyawarah desa sebagai pengejawantahan kehendak warga, lembaga kemasyarakatan desa.

“Adapun budaya ibarat rumah bagi kehidupan sosial sehingga adaptasi budaya menjadi penting agar proses perubahan yang didorong tetap dirasakan selaras oleh warga desa,” tambahnya.

Adapun secara keseluruhan buku ini memberikan banyak pandangan baru, terutama berkaitan dengan pengembangan desa-desa di Indonesia. Mungkin satu-satunya yang terasa kurang dari buku ini ialah metode penerapan dan hasil-hasil SDGs Desa.

Penulis memberi jawaban, bahwa ini adalah buku pertama dari trilogi SDGs Desa. Buku ini memang menekankan konsep SDGs Desa. Metode implementasi­nya dijanjikan pada buku kedua. Adapun hasil SDGs Desa dijanji­kannya pada buku ketiga.

Tampaknya penulis benar-benar bersiap menumbuhkan asa baru membangun desa. (FikA)

banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *