banner 728x250

Menteri Halim: Hikmah Terbesar Pandemi Global Covid-19 Ialah “Great Reset”

  • Share
banner 468x60

JAKARTA, infodesaku.com – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Republik Indonesia, A Halim Iskandar menyebut bahwa hikmah terbesar yang dapat diambil dari kondisi pandemi global Covid-19 ialah “great reset”. 

Dimana dormansi yang terjadi hampir di seluruh aktivitas ekonomi, sosial, dan politik, membuka waktu guna berefleksi. Hanya yang telah bersiap diri, kelak pasca pandemi, yang bakal berlari lebih kencang daripada lainnya.

“Selama dormansi (hambatan sementara, red) inilah, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Desa memperoleh relevansinya, yaitu menyiapkan pembangunan desa secara total,” ujarnya, seperti dikutip dari Portal Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Jumat (23/07/2021).

Adapun yang dimaksud Halim Iskandar dengan “menyiapkan pembangunan desa secara total” yakni berkenaan dengan pematangan konsep, dukungan kebijakan dan kelembagaan, serta pendataan detail dari dalam desa. 

“Desa berkesempatan mengatasi ketertinggalan, karena SDGs Desa wajib menjangkau semua warga, no one left behind (tidak ada yang tertinggal, red), segenap lingkungan desa, serta wajib mempertahankan ragam kearifan setempat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, SDGs sebagai produk PBB dinilai paling komprehensif, karena mencakup segenap aspek pembangunan yang telah dikenal manusia, dan sudah diadopsi Indonesia sejak lama sesuai Peraturan Presiden nomor 59 Tahun 2017.

Dengan menetralkan cara mencapai kemajuan (karena bisa lewat kapitalisme, sosialisme, atau jalan lainnya), tata kelola pembangunan global beralih memusatkan pada tujuan capaian. Ikatan antarnegara dikuatkan melalui ukuran capaian bersama, yang terus berkembang dari 196 indikator pada 2015 menjadi 247 indikator pada 2020.

“Sayangnya, peringkat Indonesia yang rendah tidak banyak berubah di antara 116 negara, dari ke-98 pada 2016 melorot ke peringkat ke-101 pada 2020,” katanya.

Dari evaluasi SDGs global, diketahui keunggulan Indonesia pada dukungan kebijakan untuk seluruh tujuan pembangunan. Namun, masih tertanam kelemahan pada implementasi kegiatan, perwujudan keadilan dan keamanan, serta partisipasi antar pihak.

Yang kalis dari perhatian selama ini, ialah sumbangsih desa mencapai 74 persen dari capaian SDGs nasional. Artinya, sesungguhnya peran desa sangat dominan sebagai tulang punggung pencapaian SDGs. 

“Namun, desa tidak masuk daftar rencana aksi ataupun ukuran penghitungan SDGs nasional,” ujarnya.

Jika dipilah, lanjutnya, kontribusi desa terwujud lantaran wilayah 74.953 pemerintahan desa mencakup 91 persen wilayah pemerintahan Indonesia. Artinya, pemenuhan tujuan pembangunan desa berkontribusi 91 persen terhadap sepuluh SDGs nasional yang berorientasi kewilayahan: energi bersih, pertumbuhan ekonomi, industri dan inovasi, pengurangan ketimpangan, mitigasi iklim, pelestarian lautan, pelestarian daratan, kelembagaan dan keadilan, dan jaringan kerja sama pembangunan.

“Sementara itu, 118 juta warga desa mencakup 43 persen penduduk Indonesia. Maka, pemenuhan kebutuhan warga desa berkontribusi 43 persen terhadap lima SDGs nasional yang berkaitan dengan kewargaan: penghapusan kemiskinan, menghilangkan kelaparan, akses kesehatan, akses pendidikan, akses air bersih, dan anti diskriminasi gender,” jelasnya. (FikA)

banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *